Dalam sebuah workshop “Integrated
PR Strategy with others Department for Maximum Result”, yang diprakarsai
oleh XP Training dan digelar selama tiga hari di Bali pada tanggal 5 – 7
Desember 2007 yang diikuti oleh corporate secretary, external department serta
departemen lain diluar PR dari beberapa oil company, penulis berkesempatan
menyampaikan materi bertajuk Media Relations antara teori dan fakta. Kenapa
tajuk ini saya anggap penting untuk dipahami oleh peserta workhop? Ada beberapa
hal yang sering saya temukan dalam praktik dilapangan disaat menjalankan fungsi
media relations sebagai bagian dari Public Relations, seperti seorang media
relations dalam teori sebagai seorang executor atau sub bagian dari
departemen PR yang menjalankan strategi dan perencanaan program yang dibuat
oleh PR Department dalam sebuah organisasi.
Seiring dengan perkembangan yang ada dan tingginya
kebutuhan oranisasi akan tenaga yang menguasai secara baik seluk beluk media
dengan network dan kedekatannya, kini tumbuh dan berkembang pula jasa yang
mengkhususkan pada bidang media relations ini. Dua hal ini menjadi
pertimbangan utama dalam penyuguhan materi media relations antara teori dan
fakta dilapangan selain juga adanya permintaan tentang bagaimana menggunakan
media massa untuk keuntungan perusahaan (meminimalisasi/misunderstanding/miscommunication)
atau juga buat keuntungan diri anda sendiri. Tentu sudah sangat
dimengerti bahwa secara teori, media relations memiliki fungsi atau peran
pertama berkenaan dengan komunikasi, kedua berkenaan dengan pemberian informasi
atau memberi tanggapan pada pemberitaan media atas nama organisasi atau klien.
Kenapa demikian? Hal ini lebih dikarenakan dewasa ini media massa sudah menjadi
bagian dari banyak orang. Nyaris tak ada kegiatan yang tak melibatkan media
massa dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, organisasi mau tidak mau
membutuhkan sebuah hubungan baik dengan media yang oleh praktisi PR
menjadi salah satu roh penting dalam aktivitas Public Relations.
Frank Wylie (mantan ketua
Masyarakat Public Relations Amerika (PRSA/Public Relations Society of America)
-- dalam Interpreter, mei 1997 mengemukakan sebuah penemuan yang menarik
terkait dengan aktivitas atau kerja seorang Public Relation Officer. Dalam
uraiannya ini Frank memilahnya menjadi antara Senior Public Relations Officer
dan Junior Public Relations Officer tentang bagaimana masing-masing menjalankan
fungsinya. Menurutnya, Public Relation Officer (Senior) 10% waktunya dihabiskan
untuk hal-hal teknis, kemudian 40%nya untuk urusan administratif, dan
sisanya 50% untuk menganalisa dan menilai. Kemudian bagi junior public
relations officer, 50%waktunya dihabiskan untuk hal-hal teknis,
kemudian 5%nya untuk urusan penilaian, dan 45% sisanya untuk
menjalankan apa saja.
Hal teknis di atas terkait
dengan ketrampilan kita dalam menulis siaran pers, membuat laporan liputan media
atau mendokumentasikan kegiatan sedangkan analisis adalah kegiatan yang
membutuhkan intligensia tentang bagaimana menghadapi / menanggapi opini publik,
membaca kecenderungan, atau merumuskan permasalahan berdasarkan berbagai data
yang dimilikinya.
Pemaparan di atas memang tidak
secara spesifik berkaitan dengan fungsi dan tugas seorang media relations
officer, melainkan penekanan pada kompetensi seorang PR yang selain harus
memiliki kemampuan teknis juga harus menguasai dan mampu membuat sebuah analisa
akan perkembangan opini publik atau perusahaan/ organisasi. Kembali lagi kepada
definisi media relations, secara teori seperti dalam glosarium, media
relations adalah berhubungan dengan para wartawan dalam upaya untuk membina
hubungan yang baik dengan media siaran, cetak, dan online. Dari sini Media
Relations Officer bisa juga disebut sebagai perpanjangan tangan PR dalam
membina hubungan baik dengan media massa. Melihat tugas media relations
tersebut jelas bahwasannya peran seorang media relations dalam menyukseskan
program dan perencanaan strategi PR menjadi sangat krusial dan penting walaupun
tetap saja bisa disebut sebagai seorang executor dari program-program PR.
Menjawab pertanyaan peserta
tentang bagaimana praktik dan fakta yang ada dilapangan serta banyaknya
organisasi yang tetap memilih/menujuk seorang media relations dari luar
organisasi, ini tentu tidak bisa disama ratakan. Pertama mungkin saja dalam
departemen PR (humas) organisasi tersebut belum memiliki staff media relations
yang memang dekat dan memiliki hubungan baik dengan media atau lebih pada soal
efektivitas dan simplisitas. Tak ada yang salah dengan dua pertimbangan ini.
Karena urusan menjaga, menjalin dan membina hubungan baik denganmedia memang
bukan sesuatu hal yang mudah. Secara sederhana bisa diilustrasikan bahwasanya
menjalin hubungan baik dengan media ini seperti halnya kita menjalin hubungan
dengan pasangan. Sangat kompleks dan banyak hal yang musti diperhatikan. Dengan
demikian tak ada salahnya organisasi mempercayakan hal ini kepada orang yang
memang memiliki selain network ke media juga kedekatan hubungan dengan
masing-masing media termasuk memahami secara baik seluk-beluk media massa.
Terlebih dewasa ini telah banyak jasa media relations uang ada, baik itu secara
personal maupun ada terorganisir.
Faktor lainnya adalah biaya.
Kebanyakan jasa media relations yang ditawarkan selain sangat terjangkau, hasil
yang diberikan pun juga cukup professional dan memuaskan. Hal tersebut mungkin
dianggap lebih paktis bagi beberapa organisasi, namun demikian bagi sebagian
organisasi lainnya lebih memilih menggunakan jasa PR secara menyeluruh dengan
mengundang atau menunjuk perusahaan yang bergerak di bidang PR Consultant atau
tak sedikit organisasi yang memilih memberdayakan peran dan fungsi PR di dalam
organisasinya dengan mengikutsertakan staff PR, corporate secretary atau
external communications atau departemen lain ke berbagai pelatihan baik secara
general membahas tentang PR atau secara khusus tentang media relations yang di
dalamnya terdapat banyak hal mulai dari pemetaan media (mediascape), pemahaman
alur kerja media hingga bagaimana cara berhadapan dan menjalin hubungan dengan
media, bagaimana membuat sebuah event yang menarik dan melibatkan media seta
aspek-aspek lainnya hingga teknik penulisan naskah Public Relations. Hal ini
bisa jadi adalah pilihan tepat guna mencetak staff yang handal berkenaan dengan
komunikasi sehingga mampu menjalankan fungsi PR sebagai jembatan antara
organisasi dengan publiknya.
Media
Relations = Event Organizer
Fakta yang terjadi dilapangan,
baik media relations officer maupun independent media relations
menjalankan fungsinya lebih dari sekedar menjalin dan menjaga hubungan baik
kepada para wartawan (media) dengan berusaha secara aktif memenuhi kebutuhannya
akan informasi guna mendapatkan publisitas bagi organisasinya. Seorang media
relations officer atau independent media relations juga harus
menjalankan fungsinya dalam mempersiapkan, mengatur dan menyelenggarakan event
(press conference / editor gathering / lainnya) termasuk juga melakukan fungsi
memonitor, kliping dan menganalisa publisitas (atau sering disebut sebagai
aktivitas event management) yang ada terkait dengan pemberitaan organisasi.
Di tingkatan ini, media
relations officer setelah menyelesaikan tahapan-tahapan dalam event
management hingga membuat sebuah report dari kegiatan publisitas tersebut
kemudian menyerahkannya ke public relation officer / manager yang selanjutnya
dibahas di tingkat manajemen. Hasil dari kegiatan ini kemudian bisa digunakan
sebagai masukan maupun bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan
organisasi selanjutnya. Seoran media relations officer kemudian kembali
menjalankan fungsinya dalam berusaha menjalin da membinahubungan baik dengan
media termasuk menindak lanjuti program publisitas yang diselenggarakan. Ada
beberapa kegiatan yang biasa dilakukan setelah event berlangsung yang bertujuan
untuk tetap menginformasikan progress dari kegiatan yang telah dijalankan.
Misalkan acara tersebut adalah acara press conference dalam rangka ”Paparan
Publik dan Penawaran Perdana Saham (Initial Public Offering / IPO). Untuk jenis
kegiatan ini kerja media relations belumlah selesai setela menyerahkan laporan
publisitas atas kegiatan tersebut. Hal ini dikarenakan ada langkah-langkah lanjutan
terkait dengan program IPO sebuah perusahaan, yakni waktu bookbuilding,
kemudian tahap masa penawaran, masa penjatahan dan masa pencatatan di Bursa.
Untuk event ini kerja seorang media relations dituntut sangat ekstra keras dan
senantiasa mengikuti perkembangan disatu sisi dan di sisi lain seorang media
relations juga secara continue akan dihubungi oleh pihak media yang selalu
ingin tahu perkembangan program organisasi. Sehingga selain kecepatan informasi
yang dibutuhkan media harus dipenuhi, seorang media relations juga harus
pandai-pandai dalam menghadapi media dan manajemen.
Waktu kerja dan tingkatan
tuntutan kerja seorang media relations dalam event ini tentu akan berbeda
dengan event lainnya, seperti event launching, special event, event RUPS, dan event
lainya yang bersifat sekali selesai. Di sinilah seorang media relations juga
menjalankan fungsinya sebagai seorang event organizer. Bedanya event organizer
(eo) secara umum bersentuhan dengan publik yang luas sedangkan seorang media
relations yang event organizer ini lebih fokus pada media sebagai publik.
Dari pemaparan di atas, kalau
boleh disederhanakan pemahaman akan fungsi dan peran media relations officer
dalam organisasi adalah menjalankan fungsi dan perannya sebagai eksekutor atau
perpanjangan tangan dari rencana dan program PR, namun demikian jika ditilik
dari praktiknya dilapangan, seorang media relations officer adalah event
organize bagi organisasi. Berbeda dengan seorang independent media relations,
dalam organisasi biasanya selain menjalankan program dan rencana PR dari
organisasi yang menunjuknya juga dituntut secara kreatif dan inovatif untuk
memberikan sebuah program media yang baik dan menguntungkan. Lebih jauh, seorang
independent media relations juga harus memberikan service yang menyeluruh mulai
dari konsep, perencanaan dan penanganan event maupun dalam menghadapi media
termasuk mempersiapkan konsep dan format undangan media, prss release yang
kemudian dikemas dalam bentuk press kit juga secara professional menjalankan
tugasnya dalam melakukan monitoring, tracking, analisa dan reporting.
Sekali lagi, seiring dengan
perkembangan dan tuntutan jaman menurut saya tak ada salahnya bagi individu
yang memutuskan untuk terjun secara professional menjadi seorang media
relations. Tentu saja penguasaan akan hal teknis, netwoking yang bagus kepada
media, pemahaman tentang public relations, kemampuan menganalisa dan
menganggapi perkembangan opini publik serta penguasaan aspek-aspek terkait
dengan peran dan fungsi Public Relations menjadi syarat mutlak. Penguasaan
teori itu sangat penting, namun kesiapanmenghadapi dunia nyata terkait dengan
dunia komunikasi dan khususnya media menjadi hal yang tak kalah pentingnya.
--------------
[Penulis adalah pendiri dan
program director VIP enterprise yang juga aktif sebagai Media Relations
Consultant Asbanda, PR Consultant Intuisi Communications, , Redaktur F (Film)
Magazine, Trainer di The International Republican Institute (IRI) untuk media
relations dan Candidate branding dan Branding New Party. Selain itu ia juga mengajar media
relations dan creative writing di Selapa Polri untuk Dikjur Humas angkatan
2008, Pernah menjadi Program Director Pelatihan Public Speaking DivHumas Mabes
Polri (27 Juli s/d 15 Agustus 2008 di Hotel Paragon Jakarta). Personal web http://tarsihekaputra.multiply.com,
www.trainersclub.or.id,
www.mediakonsumen.com ]